Minggu, 24 Oktober 2010

Kedamaian Hati >> Kedamaian Sejati

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah berlimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis yang berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.

Ketika sayembara telah usai, sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaganya bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung- gunung yang menjulang tenang disekitarnya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian.

Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. ditengah kerasnya alam dan riuh rendahnya air terjun, seekor induk pipit dengan sangat damai dan tenang mengerami telurn2ya … Benar-benar damai….

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

“Wahai Raja, kenapa Raja memilih lukisan nomor dua?”

Sang Raja menjawab, “Kedamaian bukan berarti kau harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau tanpa masalah yang mendera . Kedamaian adalah ada didalam hati itu sendiri, meskipun kau berada di tengah-tengah keributan/problem luar biasa.”

“Kedamaian hati adalah kedamaian sejati.” Kedamaian bukanlah kita menjauh dari masalah dan tinggal di tempat yang sunyi.., tapi kedamaian sejatinya hanya bisa ditemukan di dalam hati. Mulailah berdamai dengan diri sendiri sebagai langkah awal memasuki kedamaian sejati..

........................ salam.. >>

Kamis, 21 Oktober 2010

RESEP BAHAGIA YANG SEDERHANA

Ringankan hidupmu dengan cara menerima beban yang ada

Ikatlah dengan cara melepaskan

Marahlah dengan cara memaafkan

Isilah dengan cara mengosongkan

Yakinlah dengan cara berserah diri padaNya

Dapatkan dengan cara Memberi

Kritiklah dengan cara istighfar, introspeksi, dan memperbaiki diri

Kecilkan masalah dengan cara membesarkan Allah

Cintai yang bukan mahrommu dengan cara mencintai mahrommu karena Allah...

Begadanglah dengan cara Sholat Tahajud...

Redakan emosimu dengan cara Tilawah Quran sepenuh hati

Kayakan dirimu dengan cara Sedekah yang tak kau hitung-hitung balasannya

Kejarlah dunia dengan cara mengejar akhirat

Kejarlah kehidupan dengan cara siap menerima kematian

Kejarlah kuantitas dengan cara memperbaiki kualitas

Pintarkan otakmu dengan cara membersihkan hatimu

Marketingkan produkmu dengan cara memarketingkan dirimu di hadapan Allah SWT...

Aturlah anakmu...Aturlah istrimu..Aturlah anak buahmu..Aturlah umatmu...Aturlah semestamu...

dengan cara :"jangan pernah mengatur mereka, kecuali sekedar taushiyah dan peringatan saja, sebab hanya yang Maha Mengatur kehidupan ini yang dapatkan memberikan hidayah kepada mereka, dan kepadamu..."



Wallahu alam
.... salam...

HAKIKAT PIKIRAN DAN PERASAAN

ANDA bukanlah apa yang ANDA PIKIRKAN dan ANDA bukanlah apa yang ANDA RASAKAN. Tapi Anda dapat BELAJAR banyak dari apa yang ANDA PIKIRKAN dan apa yang ANDA RASAKAN... ANDA adalah ANDA yang MERDEKA dari PIKIRAN dan PERASAAN yang MEMENGARUHI ANDA... dan HANYA ALLAH tempat ANDA bergantung, So, jangan gantungkan diri ANDA kepada PIKIRAN dan PERASAAN ANDA, apalagi kepada orang lain di luar sana

Anda BUKANLAH apa yang Anda PIKIRKAN. Anda adalah Anda, dan Si Pikiran adalah Si Pikiran. Anda bertugas sebagai LEADER dan PENGAMAT bagi Si Pikiran. Jika Si Pikiran sedang NEGATIF, maka cukup amati saja dan beristighfarlah, dan jika Si Pikiran sedang POSITIF maka SUPPORTlah ia... Tak perlu stress berusaha mengendalikan Si Pikiran, sebab seringkali justru pikiran yang berhasil mengendalikan Anda...

ALLAH hadirkan PIKIRAN & PERASAAN (2P) kepada Anda sebagai UJIAN. UJIAN dalam bentuk keSENANGan atau penDERITAan. IBLIS dan Syaitan pun MEMPENGARUHI dan MENGGODA manusia melalui 2P ini. Sehingga kita harus LIHAI membedakan mana 2P dari Syaitan dan mana 2P dari Tuhan. Itu sebabnya kita butuh KITABULLAH untuk memfilternya.... Anda bukanlah 2P, tapi 2P bertugas memengaruhi Anda...

Karena ANDA bukanlah yang ANDA PIKIRKAN, maka jika hadir PIKIRAN yang "Bukan-Bukan" maka tenang saja sebab pelakunya bukanlah Anda, kecuali jika Anda "mengamini" dan "menikmati" Pikiran yang "bukan-bukan" itu ... TOLAKlah pikiran yang "bukan-bukan" itu dengan cara MENGABAIKANnya, TA'AWUDZ, dan BERISTIGHFAR kepada ALLAH.....

Perhatikan EMOSI/PERASAAN Anda, nasehatilah ia sesering mungkin dengan ayat-ayat Ilahi, dan mintalah Allah agar menenangkan sang Emosi. Anda bukanlah Emosi yang Anda rasakan. Anda mah Anda, Emosi mah ya Emosi. Kalau Emosi sedang menteror Anda dan tidak mau diajak berdamai, maka berdo'alah "Hasbunallah wani'mal wakiil, ni'mal maula wani'man nashiir"

So, Tidak perlulah PIKIRAN dan PERASAAN Anda menganalisa takdir Allah yang belum terjadi atas diri Anda... sehingga Anda gelisah karena analisa Anda dan bukan gelisah karena takdir Nya... sebab takdirNya nanti masih belum terjadi pada diri Anda .... maka sebaiknya rasakan saja kehadiran Anda bersamaNya di setiap "saat" maka Anda niscaya selalu dijagaNya... Jangan Takut dan Jangan Khawatir... PenjagaanNya sangatlah sempurna...

Bebaskan diri Anda dari pikiran Anda sendiri . SEJATINYA, Anda berbuat negatif bukanlah karena pikiran Anda , tapi karena Anda sendiri yang kok mau-maunya dipengaruhi oleh Pikiran Anda . Itu sebabnya kelak Anda lah yang bertanggung jawab di hadapan Allah, bukan pikiran Anda . Kelak Pikiran hanya menjadi Saksi dalam penghisaban Anda, sebagaimana Penglihatan, Pendengaran, dan Fuad yang menjadi saksi. Pikiran adalah ujian, tempat syaitan membisikkan banyak hal. Belajar mencuekkan pikiran berarti belajar mencuekkan syaitan. Yuwaswisu fii shuduurinnaas...

Anda adalah Anda yang diwakili oleh RUH yang telah dititipkanNya... RUHlah yang seharusnya menjadi DRIVER/KENDALI dalam kehidupan Anda yang singkat ini...sehingga jangan serahkan KENDALI kehidupan Anda kepada PIKIRAN dan PERASAAN Anda...

"Ya Allah, jangan izinkan emosiku, pikiranku, dan jasadku mengikat, mencemari, dan memengaruhi kefitrahan Ruh titipanMu ini. Tolong jagalah Ruh dariMu padaku ini, sehingga Ruh ini tetap bisa menjadi Driver bagi kehidupanku..."

Sobat, semoga kita terlindungi dari hal menuhankan dan mengbadi kepada Pikiran dan Perasaan... sebab hanya Allah lah yang berhak dituhankan, sedangkan pikiran, perasaan, dan orang lain adalah sebagai pembelajaran dan kawan sinergi untuk bersama-sama bertemu Allah, insya Allah..

So, kalau ada yang memarahi Anda seperti ini :"Dasar Bodoh, kamu memang tidak punya PIKIRAN"

Maka jawablah :"Saya memang tidak punya apa2, semua milik Allah, Pikiran ya Pikiran dan saya ya saya.."

^_^

Wallahu alam .... salam..